MENGANALISIS KONSEP,UNSUR,PRINSIP,BAHAN,DALAM TEKNIK DALAM BERKARYA SENI RUPA KELAS XI IPA 1.2.3.4.5
A.
Uraian Materi
a. Pengembangan Sikap Apresiatif
Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater.
Pada hakikatnya semua manusia
dianugerahi oleh Tuhan apa yang disebut “sense of beauty”, rasa keindahan.
Meskipun ukurannya tidak sama pada setiap orang, jelas setiap manusia sadar
atau tidak menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya,
ketika kita memantas diri dalam berpakaian, memilih dasi, memilih sepatu, dan
berdandan (sekedar contoh). Senantiasa rasa keindahan berperan memandu perilaku
kita untuk memilih apa yang kita anggap menampilkan citra harmonis yang pada
umumnya kita sebut tampan, gagah, cantik, ayu, rapi. Dalam bahasa sehari-hari,
yaitu penggunaan kata “lain” menyebut fenomena keindahan.
Demikian pula dalam melengkapi
kebutuhan hidup, kita selalu dipandu oleh rasa keindahan. Katakanlah dalam
menata arsitektur rumah tinggal, memilih perabotan rumah tangga, televisi,
kulkas, otomotif, sampai kepada pembelian piring, sendok, garpu, dan segala
macam barang yang kita gunakan di kota. Demikian pula pada kehidupan di desa,
hampir semua benda yang dibutuhkan memiliki kaitan dengan rasa keindahan dan
seni, seperti kain tenun, keris, batik, ornamen, busana, keramik, perhiasan,
alat musik, dan banyak lagi.
Sumber: Buku
Art of
Indonesia
Gambar 1.2 Desain
Tekstil, dengan motif
kapal, stilasi manusia, hewan,
burung, dan
pohon kehidupan, Sumatera
Selatan.
Tingkat kepekaan perasaan keindahan
akan
berkembang
lewat
kegiatan menerima (sikap terbuka) kepada semua manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni
lukis, seni patung, seni grafis, desain, dan kriya) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya
(desain produk atau
industri, desain
interior, desain
komunikasi visual,
desain tekstil, dan
berbagai
karya
kriya
(kriya
keramik, tekstil, kulit,
kayu,
logam dan lain-lain).
Melalui
proses penginderaan,
kita mendapatkan pengalaman estetis.
Dari proses
penghayatan
yang intens, kita
akan mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan mengamati karya seni rupa murni dan seni rupa terapan, dalam arti
praksis adalah kemampuan mengklasifikasi,
mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan dan mengevaluasi
serta
menyimpulkan
makna karya seni.
Aktivitas
ini dapat dilatih sebagai kemampuan apresiatif secara lisan maupun tulisan.
Aktivitas pendukung,
seperti
membaca
teori
seni,
termasuk
sejarah
seni dan reputasi seniman,
dialog dengan tokoh seniman
serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi,
sehingga
para
siswa dapat
menyertakan
argumentasi yang
logis
dalam menyimpulkan makna seni.
Secara psikologis
pengalaman pengindraan karya
seni
itu berurutan
dari sensasi (reaksi panca indra
kita mengamati seni),
emosi (rasa keindahan), impresi
(kesan pencerapan),
interpretasi (penafsiran makna seni), apresiasi
(menerima dan menghargai makna seni, dan evaluasi (menyimpulkan nilai seni). Aktivitas
ini berlangsung ketika seseorang
mengindra
karya
seni,
biasanya
sensasi
tersebut diikuti dengan aktivitas berasosiasi, melakukan
komparasi,
analogi, diferensiasi, dan
sintesis.
Pada umumnya
karya
seni yang dinilai baik
akan
memberikan kepuasan spiritual
dan intelektual bagi pengamatnya.
a. Pengembangan Sikap Empati kepada Profesi Seniman
dan Budayawan
Apresiasi seni budaya, termasuk seni rupa, sebagai
bagian dari estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas kemampuan
mengapresiasi keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik
dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup,
maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan
yang harmonis.
Pengenalan tokoh-tokoh seni budaya, reputasinya,
dan kontribusi mereka bagi
masyarakat dan bangsa,
atau bagi kemanusiaan pada umumnya, adalah
upaya nyata
mengembangkan perasaan simpati,
yang jika dilakukan berulang-ulang akan meningkat menjadi
perasaan
empati. Dengan
demikian, peserta didik
menjadi kagum
akan
prestasi dan jasa-jasa para seniman
atau budayawan
berdasarkan
kualitas karya seni dan pengakuan serta penghargaan yang diperolehnya, baik dalam tingkat
lokal, nasional, dan internasional.
b. Mengamalkan Perilaku Manusia
Berbudaya dalam Kehidupan Bermasyarakat
Kata budaya berasal dari bahasa sansekerta, buddayah
bentuk jamak dari
kata budhi yang berarti
akal dan nalar.
Jadi kata kebudayaan dapat
diartikan hal-hal yang berhubungan dengan budi, akal, dan nalar. Menurut
Koentjaraningrat, kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang
harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya itu.
Kebudayaan memiliki tiga
wujud, (1) kebudayaan sebagai konsep, (2) kebudayaan sebagai aktivitas, dan (3)
kebudayaan sebagai artefak. Dengan klasifikasi seperti ini seluruh aktivitas
interaksi manusia dengan Tuhan, interaksi dengan masyarakat, dan interaksi
dengan alam, semuanya adalah kebudayaan.
Kata budaya sering juga dipadankan dengan kata
adab, yang menunjukkan unsur-unsur budi luhur dan indah. Misalnya, kesenian,
sopan santun, dan ilmu pengetahuan, adalah peradaban atau kebudayaan. Namun
menurut Van Peursen, dewasa ini filsafat kebudayaan modern akan meninjau kebudayaan
terutama dari sudut
policy tertentu, sebagai satu
strategi atau master plan bagi hari depan. Kebudayaan
diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang.
Berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja
ditengah-tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu.
Dengan mengenal, memahami, dan
menghargai budayanya sendiri, orang dapat mengembangkan potensi perilaku yang
baik bergaul dengan masyarakat seni dan lingkungan sosial sebagai insan yang berbudaya. Mengembangkan
sikap ramah, dan rendah hati dalam
berinteraksi secara efektif dengan para seniman dan budayawan, lingkungan
sosial serta dalam menempatkan dirinya sebagai cerminan bangsa yang berbudaya dalam
pergaulan dunia.
c.
Interaksi dan Komunikasi Efektif dengan Lingkungan Seni Budaya
Dari
pengalaman belajar apresiasi
seni, di harapkan
berkembang sikap demokratis, etis, toleransi, dan sikap positif lainnya.
Sikap demokratis misalnya akan tercermin ketika siswa mengacu kepada prinsip
diferensiasi dan tidak diskriminatif. Hal ini akan terjadi bila ia memberi
peluang yang sama kepada semua anggota panitia mengemukakan pendapat untuk
menentukan, misalnya, tema pameran. Contoh sikap demokratis lain adalah
perilaku yang tidak bias gender. Siswa akan memperlihatkan penerapan prinsip
kesetaraan gender sesama teman dan pergaulan dengan masyarakat seni dan
lingkungan pergaulan sosial pada umumnya. Sikap toleran akan tercermin ketika
siswa dapat menerima perbedaan pendapat dalam aktivitas mengapresiasi seni,
karena dari kajian yang dilakukannya dalam menafsirkan data pengamatan
perbedaan respons estetik adalah sesuatu
yang wajar. Sebab
dia tahu pada
dasarnya seni dapat
dipersepsikan secara berbeda. Sikap etis akan tercermin bila siswa dalam
kegiatan diskusi yang hangat, tidak mengucapkan kata-kata atau menunjukkan
perilaku yang bernada melecehkan, menertawakan, merendahkan, menghina, atau
kata lain yang setara dengan itu.
Dari perolehan kehidupan
berbudaya dalam proses pembelajaran di sekolah, dan dari interaksi siswa dengan
dunia seni (kunjungan pameran, museum, galeri, sanggar, atau pergaulan
langsung, misalnya, dalam kegiatan diskusi dalam kegiatan pameran di sekolah
dan lain-lain). Diharapkan para siswa dapat berinteraksi dengan santun dan
efektif dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas, termasuk lingkungan seni
budaya, di mana ia bermukim.
Dengan sikap berbudaya seperti
itu, maka para siswa dapat mengamalkan perilaku positif dan optimistik dalam
berinteraksi dengan masyarakat seni rupa, seni pertunjukan, dan masyarakat
dalam konteks lokal, nasional, dan internasional.
A.
Uji Kompetensi
1. Sikap Berapresiasi
a. Cari dan buatlah kliping reproduksi karya seni lukis, yang dipilih berdasarkan lukisan yang
kamu senangi.
b. Tulis biografi ringkas tokoh pelukis yang karya-karyanya kamu kliping.
2. Keterampilan Berapresiasi
a. Pilih satu di antara tiga lukisan yang dipajang di depan kelas.
b. Kemudian kemukakan hasil apresiasi kamu dengan tahapan yang benar untuk menyimpulkan
makna lukisan.
3. Pengetahuan Apresiasi
a. Uraikan dengan ringkas pemahaman kamu tentang tiga domain apresiasi seni.
b. Jelaskan proses kegiatan apresiasi seni dengan pendekatan saintifik.
c. Tulis latar belakang mengapa kamu memilih lukisan-lukisan yang kamu kliping. Kemukakan
alasan-alasan logis mengapa kamu mengapresiasinya dengan baik. Kemudian, uraikan
manfaat aktivitas berapresiasi seni bagi kehidupan kamu pribadi.
|
Pengetahuan Metakognitif |
|||
|
Latar Belakang |
Alasan Pemilihan |
Manfaat Apresiasi
Seni |
Keterangan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Comments
Post a Comment